Uji Hipotesis Statistik Dalam Penelitian


Uji Hipotesis Statistik Dalam Penelitian – Uji hipotesis adalah suatu metode pembuktian empiris untuk mengkonfirmasi dan menolak opini ataupun asumsi berdasarkan data sampel. Hipotesis diambil dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu Hupo dan Thesis. Hupo berarti lemah, rendah, dan tidak kuat. Sedangkan Thesis berarti teori, asumsi, pendapat atau pernyataan.



Dari definisi tersebut maka bisa diambil kesimpulan bahwa hipotesis merupakan suatu teori yang sifatnya lemah dan harus dibuktikan kebenarannya. Di dunia ini ada banyak sekali hipotesis yang bisa ditemui. Namun tidak semuanya bisa diuji dan tidak semua hipotesis harus diuji. Hal tersebut karena dalam pengujian hipotesis sudah pasti akan membutuhkan banyak dana, waktu, dan juga tenaga.

Ciri-Ciri Hipotesis

  1. Hipotesis harus menyatakan hubungan antar variabel
  2. Hipotesis harus sesuai dengan kaidah ilmu pengetahuan
  3. Hipotesis harus dapat diuji
  4. Hipotesis harus sederhana
  5. Hipotesis harus menerangkan fakta atau fenomena

Baca juga: Pengujian Hipotesis Komparatif

Jenis-Jenis Hipotesis

Hipotesis secara umum digunakan untuk menguji suatu pendapat, klaim, atau asumsi yang beredar di kalangan masyarakat. Kemunculan hipotesis masih belum diketahui dari mana.

Seringkali muncul anggapan bahwa seorang perempuan yang memiliki gelar pendidikan tinggi akan sangat sulit untuk mendapatkan pasangan. Lalu darimanakah anggapan ini muncul? Apakah anggapan ini dapat dipercaya?

Hipotesis ini sendiri terbagi dalam dua jenis, yaitu:

  1. Hipotesis Nol (Hₒ)

Hipotesis nol adalah hipotesis awal yang biasanya berisi kepercayaan, asumsi, atau pendapat yang harus dibuktikan kebenarannya.



  1. Hipotesis Alternatif (Hα)

Hipotesis alternatif adalah hipotesis yang menyatakan suatu pendapat atau merupakan kebalikan dari hipotesis nol. Jenis hipotesis ini memang selalu berlawanan dengan hipotesis nol. Alasannya tak lain karena penguji seringkali menolak H0 dan lebih memilih hipotesis alternatif sebagai pernyataan yang tepat.

Selain dalam bentuk numerik, hipotesis juga bisa berupa kategori. Sebagai contoh, apakah benar seorang perempuan lebih teliti dibandingkan laki-laki? Sekarang mari coba tuliskan dalam bentuk notasi statistik.

Misalnya saja, ada anggapan yang menyebutkan bahwa umur yang paling tepat adalah 25 tahun. Hal ini pastinya harus dikaji secara lebih lanjut apakah asumsi ini benar ataukah tidak. Maka dari itu, bisa dituliskan dalam notasi sebagai berikut:

(Hₒ) = 25

Sementara itu, pada hipotesis alternatif akan ada beberapa pilihan yang dapat digunakan. Hal ini tergantung dari hal yang Anda buktikan sendiri.

  • Jika hipotesis memiliki nilai yang tidak sama dengan hipotesis nol maka bisa diasumsikan bahwa usia menikah yang paling tepat bukanlah 25 tahun, bisa lebih atau bisa juga kurang.



Grafik pengujian hipotesis 2 arah

  • Jika hipotesis alternatif lebih besar dibandingkan hipotesis nol. Maka bisa diasumsikan bahwa usia yang paling tepat untuk menikah adalah 25 tahun.



Leave a Comment