Pengertian Relay Dan Cara Kerjanya

Pengertian Dan Cara Kerja Relay – Seperti yang kita ketahui bahwa sekarang ini sudah banyak sekali perangkat elektronika yang menggunakan relay agar bisa bekerja dengan baik, seperti misalnya kulkas dan AC. Bahkan pada kendaraan bermotor pun kita juga akan menemukan sebuah komponen yang bernama relay.

relay

Pada saat menyalakan lampu sein motor ataupun mobil maka akan timbul bunyi tik tik, dimana bunyi tersebut merupakan bunyi yang berasal dari kontak relay. Lalu apa pengertian relay sebenarnya?

Nah, kali ini kami akan menjelaskan tentang relay beserta cara kerjanya. Komponen ini penting sekali untuk dipelajari terutama bagi Anda yang baru masuk dalam dunia elektronika. Berikut ini ulasan selengkapnya.

Apa Itu Relay

https://pintarelektro.com/pengertian-relay/

Relay adalah sebuah komponen elektronika berupa saklar atau switch elektrik yang dioperasikan secara listrik, dimana komponen ini memiliki 2 bagian penting yaitu Elektromagnet (Coil) dan Mekanikal (seperangkat kontak saklar atau switch).

Komponen elektronika ini menggunakan prinsip elektromagnetik untuk menggerakkan kontak saklar, sehingga dengan arus listrik yang sangat kecil atau low power sudah bisa menghantarkan listrik yang memiliki tegangan lebih tinggi.

Misalnya saja, Relay dengan elektromagnet 5V dan 50 mA sudah mampu untuk menggerakkan Armature Relay (yang memiliki fungsi sebagai saklar) sehingga mampu menghantarkan listrik 220V 2A.

Dari penjelasan tentang pengertian relay diatas, maka bisa kita ambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan komponen relay adalah:

  • Suatu alat yang memanfaatkan gaya elektromagnetik untuk dapat menonaktifkan ataupun mengaktifkan kontak saklar
  • Saklar pada umumnya akan digerakkan secara mekanis oleh daya atau arus listrik

Gambar Bentuk dan Simbol Ray

Berikut ini adalah beberapa gambar bentuk relay dan juga simbol relay yang biasa dijumpai pada serangkaian elektronika.

Simbol Relay

Cara Kerja Relay

Agar bisa memahami bagaimana prinsip kerja relay secara sederhana maka Anda bisa melihat gambar komponen relay yang akan kami sampaikan di bawah ini. Umumnya bagian-bagian relay terdiri dari:

  1. Electromagnet (Coil)
  2. Armature (Tuas mekanik)
  3. Switch Contact Point (Saklar)
  4. Spring

bagian-bagian Relay

Sementara itu, untuk kontak poin atau contact point relay memiliki 2 macam jenis, yaitu:

  • Normally Close atau NC adalah kondisi awal dimana saklar belum diaktifkan sehingga akan selalu berada pada posisi tertutup (close).
  • Normally Open atau NO adalah kondisi awal dimana saklar belum diaktifkan sehingga akan selalu berada pada posisi terbuka (open).

Dari gambar diatas bisa kita lihat bahwa sebuah besi (iron core) dililit oleh suatu kumparan coil yang memiliki fungsi untuk mengendalikan besi itu sendiri. Jika kumparan coil diberi arus listrik, tentu akan muncul gaya elektromagnet yang bisa menarik Armature agar bisa pindah dari posisi sebelumnya, yaitu mulai dari (NC) pindah ke (NO) sehingga akan menjadi sebuah saklar yang mampu menghantarkan arus listrik pada posisi yang baru (NO).

Posisi dari Armature sebelumnya yaitu (NC) akan berupah menjadi OPEN atau bisa juga tidak terhubung.  Ketika sudah tidak dialiri arus listrik maka Armature akan kembali pada posisi semula (NC). Coil yang dimanfaatkan oleh saklar untuk dapat menarik kontak poin ke posisi tertutup (close) biasanya akan membutuhkan arus listrik yang sangat kecil.

Contoh sederhana penerapannya misalnya saja fungsi relay pada lampu otomatis 220 VAC yang dikontrol oleh sebuah rangkaian dengan sensor cahaya yang memiliki tegangan hanya 12 atau bahkan 6 Volt DC.

Pengertian Pole dan Throw pada Relay

Seperti yang sudah kami jelaskan sebelumnya bahwa relay merupakan saklar, jadi untuk istilah Pole dan Throw yang ada dalam saklar juga berlaku pada relay. Berikut ini adalah sedikit penjelasan tentang istilah Pole dan Throw:

  • Pole adalah banyaknya jumlah kontak yang dimiliki oleh suatu komponen relay
  • Throw adalah banyaknya kondisi yang dimiiki oleh suatu kontak atau contact

Berdasarkan jumlah Pole dan Throw yang dimiliki oleh sebuah relay, maka relay bisa dibagi menjadi beberapa tipe yaitu:

  • Relay Tipe Single Pole Single Throw (SPST)

Relay Tipe Single Pole Single Throw merupakan salah satu jenis relay yang memiliki 4 kaki terminal. Yang mana 2 kaki terminal memiliki fungsi sebagai kontak poin atau saklar, sedangkan 2 kaki terminal lainnya untuk coil.

  • Relay Tipe Single Pole Double Throwm (SPDT)

Relay tipe ini didesain khusus sehingga memiliki 5 kaki terminal. Yang mana untuk 3 kaki terminalnya digunakan sebagai kontak poin atau sakral dan 2 kaki terminal lainnya untuk coil.

  • Relay Type Doube Pole Single Throw (DPST)

Relay tipe ini memiliki 6 kaki terminal. Yang mana 4 kaki terminal memiliki fungsi sebagai saklar dan untuk 2 kaki terminal lainnya berfungsi sebagai kumparan elektromagnet. Relay Double Pole Single Throw ini bisa dibuat menjadi 2 saklar yang dikendalikan oleh 1 coil.

  • Relay Double Pole Double Throw (DPDT)

Relay tipe ini memiliki sebanyak 8 kaki terminal. Pada relay tipe Double Pole Double Throw ini untuk 6 terminalnya berfungsi sebagai kontak point atau saklar. Sementara itu, dua terminalnya lagi untuk coil.

Selain beberapa tipe diatas, ternyata masih ada juga beberapa relay yang Pole dan Throw-nya lebih dari dua (2). Seperti misalnya 3 PDT (Triple Pole Double Throw) dan 4PDT (Four Pole Double Throw).

Untuk lebih memudahkan Anda dalam memahami jenis relay berdasarkan jumlah pole dan throw, silahkan Anda simak gambar berikut ini:

jenis relay

Fungsi Relay

Fungsi Relay

Fungsi relay secara umum adalah sebagai saklar otomatis (pengaman) ketika terjadi kenaikan tegangan listrik sehingga dapat mencegah terjadinya kerusakan pada komponen-komponen dalam suatu rangkaian.

Berikut ini adalah beberapa fungsi lain dari relay ketika diaplikasikan pada suatu rangkaian elektronik:

  • Relay memiliki fungsi untuk mengendalikan perangkat dengan tegangan tinggi yang tidak bisa dioperasikan secara manual menggunakan bantuan dari sinyal tegangan rendah.
  • Relay memiliki fungsi untuk melindungi motor ataupun komponen lainnya saat terjadi korsleting atau kelebihan tegangan.
  • Relay memiliki fungsi untuk menunda waktu (delay time) dengan adanya sebuah komponen tambahan tertentu.
  • Relay memiliki fungsi untuk menjalankan fungsi logika (logic funcion)

Baca juga: Cara Cek Relay Dengan Multitester

Relay Pada Perangkat Listrik

Kegunaan Relay

Relay memang sudah banyak digunakan pada berbagai perangkat elektronik dan listrik, bahkan juga pada bidang kendaraan dengan berbagai fungsinya.

  • Relay pada Panel Listrik

Pada sebuah panel listrik relay memiliki fungsi sebagai kontrol untuk kontraktor dengan kapasitas arus yang sangat besar. PLC sebagai kontrol utama pastinya tidak akan mampu untuk mengontrol kontraktor secara langsung karena memang kapasitas yang dilalui PLC sangat terbatas, maka dari itu dibutuhkan relay sebagai perantara.

Selain itu, relay pada sebuah panel listrik juga berfungsi sebagai interlock. Interlock sendiri merupakan sebuah circuit yang memiliki peran penting sebagai pengaman proses pada circuit itu sendiri apabila terjadi  intervensi yang tidak diinginkan.

  • Relay pada Mobil

Relay pada kendaraan bermotor ataupun mobil relay memiliki fungsi untuk mengontrol arus yang besar dengan sumber arus yang kecil. Misalnya saja pada kendaraan mobil, saat mobil dinyalakan maka sudah pasti akan menggunakan kontak starter, agar bisa memutar motor starter akan dibutuhkan arus yang besar sehingga digunakan relay.

  • Relay pada Klakson

Penting untuk diketahui bahwa keberadaan relay klakson pada kendaraan bermotor ataupun mobil tidak akan mengurangi penggunaan aki, karena relay akan selalu membutuhkan arus listrik agar bisa bekerja. Relay pada klakson sebenarnya memiliki fungsi agar tidak merusak saklar atau switch pada kendaraan.

Leave a Comment