Pengertian Dan Contoh Perhitungan Reaktansi Induktif


Contoh Perhitungan Reaktansi Induktif – Dalam rangkaian listrik sering didengar istilah – istilah seperti resistansi, reaktansi dan juga impedansi. Resistansi yang ada pada rangkaian listrik meruoakan tahanan yang akan diberikan oleh resistor, sedangkan untuk reaktansi sendiri merupakan tahanan dari reaksi yang terjadi apabila terdapat perubahan tegangan atau perubahan arus.

Jadi nilai tahan yang berubah tersebut memiliki hubungan dengan perbedaan fase dari tegangan dan arus. Dan yang terakhir adalah impedansi yang merupakan keseluruhan dari sifat tahanan terhadap arus baik yang mencakup resustansi, reaktasi atau keduanya.



Pada jaringan listrik AC memiliki tiga beban listrik yang harus ditopang oleh pembangkit listrik. Dari tiga jenis tersebut diantaranya adalah beban resistif, induktif, dan kapasitif. Sedangkan beban induktif akan muncul karena adanya lilitan kawat (kumparan) yang ada dalam berbagai alat – alat listrik. Alat – alat listrik yang terdapat kumparan tersebut digunakan untuk menciptakan suatu medan magnet.

Baca juga: Pengertian Dan Contoh Perhitungan Reaktansi Kapasitif

Baca juga: Pengertian Dan Fungsi Rheostat

Adanya medan magnet yang berada dalam kumparan tersebutlah yang nantinnya akan disebut menjadi beban induktif yang ada pada rangkaian arus listrik AC. Agar dapat lebih dimengerti kita ambil saya beban induktif yang ada pada motor induksi AC. Motor ini akan bekerja dengan menggunakan medan magnet yang dibangkitkan pada sisi stator untuk induksi rotor, jadi nantinya rotor akan membuat medan magnet lawan yang nantinya akan mengikuti medan magnet yang ada pada sisi stator.

Energi listrik khusus dibutuhkan untuk dapat menciptakan medan magnet putar yang ada pada stator motor induksi. Nah beban induktif yang ada pada motor induksi inilah yang nantinya akan ditopang oleh sumber listrik AC. Sedangkan untuk daya listriknya akan membutuhkan motor induksi tersebut untuk memutar beban yang terkopling pada porosnya yang dapat disebut dengan daya nyata. Jumlah yang ada pada daya nyata dan daya reaktif dapat disenbut dengan daya semu.



Pada motor induksi ini fungsi dari kumparan yaitu untuk menghambat atau menghalangi terjadinya perubahan nilai dari arus listrik. Hal ini dikarenakan oleh arus AC yang naik turun dan memiliki gelombang sinusoida. Terdapatnya penghalang atau hambatan ini dpat mengakibatkan arus listrik dapat tinggal beberapa derajat oleh tegangan listrik yang dapat dilihat pada gambar gelombang sinusiodal dibawah ini:

Gelombang diatas dapat menunjukkan bahwa sumber listrik AC yang diberi beban induktif murni, maka gelombang dari arus listrik tersebut akan tertinggal sejauh 90° dari gelombang teganan. Oleh karena itu beban induktif juga dapat dikenal dengan beban lagging (arus tertinggal tegangan)

Dapat dilihat juga pada gambar diatas bahwa terdapat pergesera antara gelombang arus listrik yang dapat menyebabkan nilai dari daya lsitik menjadi bergelombang sinusoida. Dan dapat dilihat untuk seperempat dari gelombang pertama daya diserap oleh beban induktif. Tetapi saar seperempat dari gelombang kedua daya dapat dikembalikan lagi ke sumber listrik AC, karena beban induktif murni tidak mengkonsumsi daya nyata dan hanya memakai daya reaktifnya saja.

Baca juga: Pengertian, Menghitung Dan Rumus Impedansi

Pengertian Reaktansi Induktif

Selanjutnya pada artikel ini akan dibahas tentang reaktansi induktif. Reaktansi ini terdiri dari komponen induktor dimana induktor sendiri memiliki pengertian yaitu suatu komponen elektronika pasif yang dapat memnimbulkan atau membuat medan magnet ketika dialiri oleh arus listrik dan juga dapat menyimpan arus listrik dalam waktu yang relatif singkat. Sifat dari komponen ini adalah menghantarkan arus listrik yang searah (DC) dan akan menghambat arus listik bolak – balik (AC).

Jadi dapat diartikan reaktansi induktif atau dapat disebut dengan inductive reactance adalah hambatan atau tahanan dari indktor terhadap arus listrik bolak – balik atau dapat disebut dengan arus listrik AC (sinyal AC) yang biasanya menggunakan nilai satuan Ohm (Ω).



Jadi saat rangkaian dialiri olej arus yang bertegangan DC maka arus induktor akan terus meningkat dengan seiringnya waktu hingga induktor tersebt mencapai pada kondisi stabil pada arus maksimumnya. Arus yang akan mengalir pada induktor akan ditentukan oleh hambatan yang terdapat pada kumparan induktor tersebut dan biasanya dinyatakan dalam satuan Ohm (Ω).

Saat rangkaian dialiri oleh arus bolak – balik (AC). Maka pada induktor akan terjadi gaya gerak listrik atau dpaat disebut dengan GGL yang memiiki arah berlawanan karena terdapat perubahan arah dari medan magnet (fluks). GGL dapat menimbukkan hambatan pada aliran arus listrik. Jadi hambatan ini disebabkan karena pada induktor terjadi perubahan medan listri dan magnet ketika dilairi oleh arus bolek – balik (AC).

Baca juga: Mengenal Ferrite Bead Dan Kegunaannya

Rangkaian Reaktansi Induktif

Berikut adalah contoh dari rangkaian reaktansi resistif yaitu:

Rangkaian pada reaktansi induktif ini dibedakan menjadi dua yaitu rangkaian yang disusun secara seri dan rangkaian yang disusun secara paralel. Berikut adalah gambar dari rangkaian reaktansi induktif:



Rangkaian Tersusun Secara Seri

Rangkaian Tersusun Secara Paralel

Baca juga: Pengertian Dan Fungsi Piezoelectric Buzzer

Rumus Reaktansi Induktif

Berikut adalah rumus yang sering digunakan untuk mengetahui nilai dari reaktansi induktif dari suatu rangkaian listrik yaitu:

XL = 2πfL

Keterangan:

XL = Reaktansi Induktif dalam satuan Ohm (Ω)
π (pi) = 3,142 (desimal) atau 22÷7 (fraksi)
f = Frekuensi dalam satuan Hertz (Hz)
L = Induktansi Induktor dalam satuan Henry (H)



Leave a Comment