Perbedaan Rangkaian Seri Dan Paralel Pada Baterai


Perbedaan Rangkaian Seri Dan Paralel Pada Baterai – Seperti yang kita ketahui bahwa hampir semua peralatan elektronika portable selalu menggunakan baterai sebagai sumber dayannya. Untuk bisa mendapatkan tegangan yang sesuai dengan keinginan maka baterai bisa dirangkai secara seri.

Salah satu contoh rangkaian seri yang biasa dijumpai adalah penggunaan baterai pada lampu senter dan remote control. Seringkali ditemui adanya intruksi dari peralatan tersebut untuk memasukkan 2 komponen baterai atau bisa juga lebih dengan arah baterai yang sudah ditentukan sebelumnya supaya bisa mengaktifkan peralatan yang bersangkutan. Rangkaian baterai tersebut disebut dengan rangkaian seri baterai.



Pada intinya, baterai bisa dirangkai dalam bentuk seri ataupun paralel. Namun kedua rangkaian tersebut menghasilkan rangkaian yang berbeda. Untuk rangkaian seri baterai mampu meningkatkan tegangan atau voltage baterai, dan untuk current atau arus listriknya (Ampere) akan selalu sama.

Hal tersebut tentu berbeda jauh dengan rangkaian paralel baterai yang bisa meningkatkan current atau arus listrik (Ampere) namun untuk tegangan atau voltage outputnya masih akan tetap sama.

Perlu diketahui bahwa pemasangan baterai dalam bentuk seri ataupun paralel diharuskan untuk memperhatikan kaidah yang dianjurkan demi performa baterai. Selain itu, hal ini juga dapat mempengaruhi umur pakai suatu baterai, dan bahkan lebih parahnya lagi baterai juga bisa meledak.

Maka dari itu, sebelum membahas lebih jauh kami akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemasangan baterai secara seri dan paralel.



Baca juga: Pengertian Dan Jenis Jenis Baterai

Study Kasus

Jika Rangkaian Paralel Memiliki Beda Kapasitas Ah antara Baterai 10Ah dengan 70Ah, Apa yang akan Terjadi?

Hal tersebut tentu tidak aman karena perbedaan kapasitas antara 10Ah dengan 70Ah bisa dibilang sangat besar sehingga bisa menyebabkan terjadinya overcharge dan overload.

Baterai mempunyai karakteristik state of charge (SoC) yang diukur sesuai dengan tegangan dan arus. Baterai dalam kondisi basah (flooded lead acid) berada pada SoC 100% atau penuh di tegangan kurang lebih sekitar 12.8V dan SoC 0% atau kosong di tegangan sebesar 11.0V.

Jika semua baterai kosong berada pada tegangan 11.0V mulai charge maka akan membuat baterai 10Ah mencapai tegangan 12.7V terlebih dahulu. Sedangkan untuk baterai yang paling besar, yaitu 70Ah masih pada fase boost charging dengan arus yang besar. Inilah yang akan membuat baterai 70Ah sangat panas karena semua arus listrik telah mengalir ke sebuah baterai.

SCC sendiri hanya akan membaca tegangan 1 rangkaian paralel secara menyeluruh, sehingga yang akan terbaca hanyalah tegangan baterai yang paling besar. Dengan begitu, jika baterai besar masih belum penuh, baterai lainnya akan tetap berada pada fase charging meskipun sudah dalam kondisi penuh.



Leave a Comment