Contoh Rangkaian Inverter DC to AC


Gambar diatas adalah urutan kaki dala penggunaannya agar pemasangnya tidak terbalik. Tegangan AC didapatkan dari output trafo sebesar 220 – 230 Volt AC jadi harus berhati – hati dana jangan sampai menyentuh bagian ini langsung. Berikut terdapat beberapa hal sebelum merakit rangkaian konverter ini yaitu:



1) Tegangan AC yang dihasilkan tidak sama dengan tegangan PLN yang memiliki output sine wave / gelombang sinus sehingga output inverter ini tidak cocok digunakan untuk beban yang memiliki coil seperti misalnya trafo, heater, pemanas nasi, motor listrik seperti kulkas,.. dll.

2) B1 atau baterai bisa menggunakan baterai kering maupun basah dengan tegangan 12V kapasitas 6AH – 7AH. Penggunaan kapasitas ampere yang lebih besar akan berpengaruh ke penggunaan inverter yang lebih lama

3) Mosfet Q1 dan Q2 harus diberi pendingin alumunium

4) T1/ trafo untuk inverter bisa menggunakan trafo 5A jenis CT/ center tap dengan tegangan input 9-0-9 Volt dibagian primer dan 230 Volt di bagian sekunder. Bisa juga dengan menggunakan tegangan 12-0-12 tetapi tegangan yang dihasilkan mungkin akan berbeda dan diperlukan sedikit modifikasi pada rangkaian.

5) Perlu diingat untuk tidak berharap terlalu banyak pada rangkaian ini karena memang benar benar sebuah inverter sederhana



Apabila penggunaan daya lebih besar seperti digunakan sebagai backup saat terjadi mati listrik, maka disarankan untuk menggunakan inverter yang sudah jadi seperti gambar dibawah ini:

Contoh 2

Berikut adalah contoh lain dari rangkaian sederhana inverter DC ke AC (12 V DC ke 220 V AC). Pada rangkaian ini menggunakan komponen utama adalah baterai dengan tegangan sebesar 12 V, transistor 2N2222, dua buah MOSFET IRF 630, dua buah kapasitor 2,2 µf, dua buah resistor 12 KΩ, dan dua buah resistor 680 Ω, dan juga transformer step up

Baca juga: Penjelasan Cara Kerja Solar Cell Lengkap

Skema rangkaian inverter 12V (DC) to 220 V (AC)

Cara kerja dari sirkuit ini adalah terdiri dari 3 paduan titik kerja yaitu amplifier, transistor, osilator. Karena tegangan AC tersebut memilik frekuensi 50Hz maka diperlukan osilator sebagai pembangkit frekuensi



Oleh karena itu digunakan skema astable multivibrator yang dapat menghasilak sinyal gelombang diskrit (kotak) 50Hz. Setiap transistor dapat menghasilkan gelombang kotak atau inverting yang frekuensinya didasarkan pada besar nilai resistor dan kapasitor yang digunakan.

Rumus untuk menghitung gelombang kotak yang dihasilkan oleh multivibrator astable adalah F=1/(1.38xR2xC1). siyal kotak hasil dari osilator tersebut akan dinaikkan oleh dua power MOSFET (T1 dan T2) dan untuk hasilnya akan mengalir ke step up transformator untuk dinaikkan menjadi keluaran seperti yang diharapkan yaitu 220V (AC).

Baca juga: Pengertian SCR (Silicon Controlled Rectifier)

Baca juga: Cara Mengukur SCR Dengan Multimeter

Demikian artikel kali ini yang telah mengulas tentang inverter beserta beberapa contoh rangkaian inverter sederhana dan penjelasan – penjelasan dari beberapa rangkaian tersebut. Semoga ilmu yang dibagikan dapat menambah pengetahuan adan tentang salah satu komponen kelistrikan atau salah satu rangkaian yang terdapat pada suatu rangkaian elektronika tersebut.



Leave a Comment