Mengenal Kode Kode Transistor

Kode Transistor –  Transistor merupakan salah satu komponen yang banyak digunakan pada peralatan elektronika, dimana memiliki banyak tipe tergantung penggunaannya.  Di pasaran, ada banyak sekali bahkan ribuan tipe transistor yang dirancang secara khusus untuk keperluan tertentu.

Kode pada Transistor

 

Adapun beberapa tipe transistor yang dirancang khusus adalah transistor yang digunakan sebagai penguat daya, transistor untuk saklar dan transistor sebagai penggerak (driver). Bahkan ada juga transistor yang dirancang  untuk digunakan pada rangkaian yang memiliki daya rendah ataupun dibuat khusus untuk aplikasi frekuensi tertentu.

Baca juga: Jenis Transistor NPN Dan PNP

Sistem Pengkodean Transistor

Sistem Pengkodean Transistor

Selama ini orang-orang yang bekerja dalam dunia elektronika seringkali tidak paham dengan kode penomoran yang ada pada badan transistor. Untuk dapat mengetahui bagaimana karakteristik sebuah transistor mereka biasanya menggunakan Data Sheet yang dimana memiliki kelebihan bahwa semua data yang diberikan lebih akurat kebenarannya. Padahal jika kita memahami bagaimana cara membaca kode nomor transistor maka kita bisa mengetahui karakteristik transistor dengan mudah.

Setiap tipe transistor yang dibuat memiliki nama atau inisial tentangnya yang biasanya dinyatakan dalam bentuk huruf ataupun angka. Pengkodean transistor sendiri dibedakan menjadi 3 jenis, yakni sistem pengkodean Pro-Electron yang digunakan oleh produsen Eropa, pengkodean JEDEC yang dipakai oleh produsen Amerika Utara dan juga sistem pengkodean JlS yang biasanya digunakan khusus oleh produsen Jepang.

Sistem Pengkodean Transistor

  1. Sistem Pengkodean JEDEC (USA)

JEDEC merupakan kependekan dari Joint Electron Devie Engineering Council, sistem pengkodean transistor yang satu ini berasal dari Amerika Utara dan banyak digunakan oleh berbagai produsen transistor asal Amerika Utara seperti Amerika Serikat dan Kanada. Berbeda dengan sistem pengkodean lainnya, sistem pengkodean JEDEC memberikan informasi yang tidak begitu luas terhadap karakteristik ataupun parameter transistor yang terkait.

Sistem pengkodean JEDEC ini diawali dengan 2N. Angka 2 disini berarti transistor sedangkan huruf N merupakan singkatan dari “no heating”. No heating memiliki arti bahwa komponen transistor tidak membutuhkan pemanas (heating elemen / heating), dan bukan merupakan bagian dari tabung vakum yang selalu memiliki elemen panas, dan tambahan akhiran menggambarkan penguatan (Hfe).

A adalah low gain (rendah)

B adalah medium gain (sedang)

C adalah high gain (tinggi)

Setelah itu, akan ada angka-angka yang merupakan nomor seri transistor. Sebagai contoh, 2N307, 2N3569, 2N3055, 2N37771 dan lainnya.

Catatan:

Pada sistem pengkodean JEDEC ini tidak akan ada kode yang menunjukkan jenis PNP ataupun NPN. Untuk mengetahuinya maka kita bisa melihat lembaran data transistor yang terkait.

  1. Sistem Pengkodean Pro-Electron (EURO)

Sistem pengkodean Pro-Electron adalah sistem pengkodean yang berasal dari Eropa (EURO) sehingga biasa disebut dengan sistem pengkodean Eropa. Sistem pengkodean yang satu ini banyak digunakan oleh produsen-produsen transistor Eropa.

Sistem pengkodean pro elektron ini diawali dengan beberapa kode huruf pertama dan huruf kedua. Huruf yang pertama adalah huruf A dan B, sedangkan huruf kedua terdiri dari C, D, F, L, S, dan U. Untuk huruf pertamanya mengindikasikan mengenai bahan dasar pembuatannya, yaitu bahan semikonduktor.

A berarti : Germanium

B berarti : Silikon.

Huruf kedua mengindikasikan mengenai tipe dan penggunaan komponen tersebut.

C berarti transistor daya rendah atau transistor daya menengah untuk frekuensi rendah

D berarti transistor daya untuk frekuensi rendah

F berarti transistor daya rendah atau transistor daya menengah untuk frekuensi tinggi

L berarti transistor daya untuk frekuensi tinggi

S berarti transistor “switching”

U berarti transistor untuk penggunaan tegangan tinggi

Setelah kode dari dua huruf pertama maka akan ada beberapa angka lanjutan yang merupakan nomor   seri transistor.

Contoh :

AC127, AC178 adalah transistor germanium frekuensi rendah

AD161, AD162 adalah transistor daya germanium untuk frekuensi rendah

BC107, BC557 adalah transistor silikon frekuensi rendah

BD139, BD140 adalah transistor daya silikon untuk frekuensi rendah

BF199 adalah transistor silikon untuk frekuensi tinggi

BLW98 adalah transistor daya silikon untuk frekuensi tinggi

BSX87A adalah transistor “switching” silikon

BU208 adalah transistor silikon untuk tegangan tinggi.

Seiring dengan perkembangannya, penamaan atau pemberian inisial pada komponen transistor sudah semakin beragam dan lebih cenderung kepada penamaan menurut perusahaan-perusahaan yang memproduksi transistor. Sehingga sekarang banyak bermunculan nama-nama tipe transistor baru seperti TIP41A, SE4010, NKT10419, ZTX314, ED1602, MPSA90 dan lain-lain.

  1. Sistem Pengkodean JIS (Japanese Industrial Standar)

Sistem pengkodean JIS atau Japanase Industrial Standar merupakan salah satu jenis sitem pengkodean transistor yang banyak digunakan oleh produsen Jepang. Sistem pengkodean ini memiliki nama atau insial yang diawali dengan angka 2 seperti 2 SA, 2SB, 2SC, dan 2SD.

Dalam hal ini angka 2 berarti transistor, sedangkan huruf S merupakan singkatan dari “semiconductor”. Setelah kode awal 2S diikuti dengan huruf A, B, C dan D. Ini merupakan bentuk dari digit, dua surat, nomor seri (akhiran) merupakan salah satu kurang dari jumlah kaki. Beberapa surat menunjukkan daerah application. Untuk lebih jelasnya simak format dari sistem pengkodean JIS (Japanese Industrial Standar) berikut ini:

Huruf A berarti : Transistor PNP frekuensi tinggi
Huruf B berarti : Transistor PNP frekuensi rendah
Huruf C berarti : Transistor NPN frekuensi tinggi
Huruf D berarti : Transistor NPN daya/frekuensi rendah
SE = Dioda
SF = Thrystor
SG = Dioda Gunn
SH = UJT
SJ = P-channel FET/MOSFET
SK = N-channel FET/MOSFET
SM = TRIAC
SQ = LED
SR = Rectifier
SS = Signal Diode
ST = Avalanche Diode
SV = Varicap
SZ = Dioda Zener

Selanjutnya akan ada tiga atau empat angka yang merupakan nomor seri transistor.

Contoh:

2SA101, 2SA671, merupakan transistor PNP yang digunakan untuk frekuensi tinggi.

2SD313, 2SD1603, merupakan transistor NPN yang digunakan untuk frekuensi rendah.

Catatan :

Nomor seri merupakan nomor yang dimulai antara 10 sampai 9999, tambahan akhiran menandakan bahwa sudah disetujui untuk digunakan di berbagai organisasi Jepang. Penyebutan berbagai transistor ini biasanya hanya disingkat saja, seperti misalnya A101, A671, D313, dan D1603.

Cara Menentukan Kaki Transistor

Pada pembahasan selanjutnya, kami akan menjelaskan bagaimana cara menentukan kaki transistor. Komponen transistor pada umumnya memiliki 3 kaki, yaitu Emitor (E), Basis (B) dan Colector (C).

Sementara itu, komponen transistor secara umum dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

  • Transistor PNP (anoda katoda anoda atau kaki katoda yang disatukan)
  • Transistor NPN (katoda anoda katoda atau kaki anoda yang disatukan).

Adapun beberapa contohnya yaitu, C 828, FCS 9014, FCS 9013, TIP 32, TIP 31, C5149, C5129, C5804, BU2520DF, BU2507DX, dll.

cara menetukan kaki transistor

Simbol pada rangkaian “Q” bisa dilihat pada gambar berikut ini:

cara menetukan kaki transistor

cara menetukan kaki transistor

Menentukan kaki basis

Pertama harus memutar batas ukur terlebih dahulu pada Ohmmeter X10 atau X100. Seperti misalnya pada kaki transistor diberi nama A, B, dan C. Jika probe merah atau hitam secara=> kaki A dan probe lainnya => 2 kaki lainnya  secara bergantian maka jarum akan bergerak semua sedangkan jika posisi hubungnya terbalik maka tidak akan bergerak semua. Nah, inilah yang dinamakan dengan kaki BASIS.

Menentukan Kaki Colector NPN

Cara menentukan kaki colector NPN adalah memutar batas ukur pada Ohmmeter X1K atau X10K. Jika probe merah => kaki A dan probe lainnya => 2 kaki lainnya. Selanjutnya kaki A (basis) dan kaki B dipegang dengan menggunakan tangan namun antar kaki jangan sampai terhubung.

Jika jarum mengalami pergerakan sedekat berarti kaki B merupakan kaki Colector. Sementara itu, jika kaki basis dan juga colector sudah diketahu maka untuk kaki satunya lagi merupakan emitor.

Baca juga: Pengertian Transistor FET Dan Mosfet

Identifikasi PIN Transistor

Untuk melengkapi pembahasan ini, kami akan menjelaskan cara identifikasi koneksi Pin transistor. Berikut ini adalah penjelasan selengkapnya mengenai identifikasi Pin transistor :

  1. Bipolar Junction Transistor (BJT)

    Bipolar Junction Transistor (BJT)

Transistor Bipolar Junction atau BJT terdiri dari transistor NPN dan transistor PNP yang tersedia berupa kemasan plastik atau kemasan kaleng logam. Pada kemasan plastik, salah satu sisi komponen transistor adalah datar yang merupakan sisi depan dan pin diatur dalam bentuk seri.

Untuk dapat mengindentifikasi pin, pertahankan sisi depan menghadap arah depan kemudian bisa langsung hitung pin sebagai satu, dua, dan lainnya. Sebagian besar komponen transistor NPN akan terbagi menjadi 1 collector, 2 base, dan 3 emitter. Namun pada transistor PNP kondisinya akan terbalik. Inilah yang dinamakan dengan EBC.

Bipolar Junction Transistor (BJT)

Sedangkan pada logam kaleng, pin akan disusun secara melingkar. Bisa  anda lihat tab pada pinggiran lingkaran. Pada tipe NPN, pin yang tidak jauh dengan tab adalah Emitter, yang berlawanan adalah Collector, sedangkan yang tengah adalah BAS. Pada jenis PNP pin akan dibalik. Pin yang berada didekat tab merupakan collector.

Bipolar Junction Transistor (BJT)

Namun ini bukan merupakan konfigurasi pin standar. Pengaturan pin bisa beragam di berbagai transistor. Untuk bisa mendapatkan ide, mari langsung saja simak tabel berikut ini.

Bipolar Junction Transistor (BJT)

  1. Field Effect Transistor (FET)

Untuk dapat mengidentifikasi Field Effect Transistor maka diharuskan untuk menjaga bagian melengkung yang menghadapnya dan mulai perhitungan ke arah yang berlawanan dengan arah jarum jam. Ke 1 merupakan Source, kemudian Gate dan Drain.

  1. MOSFET (Transistor Efek Medan Semikonduktor Efek Logam)

Pada umumnya di beberapa kasus, pin MOSFET akan diberikan label sesuai dengan G, S, dan D. Yang dimana menunjukkan bahwa G (gerbang), Source (sumber) dan juga Drain (pembuangan). Dalam hal ini sangat disarankan untuk berkonsultasi lembar data MOSEFE. Sementara untuk membuat sisi data yang menghadap arah kita maka pin bisa diberikan label S,G, D yang dimulai dari kiri ke kanan.

  1. IGBT (Transistor Bipolar Gerbang Terisolasi)

Di beberapa transistor IGBT yang praktis seperti GN2470 maka permukaan akan diangkat dan ditempatkan ke arah orang yang telah memegangnya. Dengan begitu maka yang lebih pendek di tengah adalah katoda. Di bagian sebelah kiri adalah Gate sedangkan di bagian sebelah kanan merupakan Emitter.

  1. Photo Transistor

Pada photo transistor yang praktis seperti L14G2, untuk menjaga permukaan melengkung ke arah orang yang memegang dimulai dari arah yang searah dengan jarum jam, ke satu adalah Collector, kedua merupakan Emitter dan yang ketiga adalah Base.

Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan koneksi pin Regulator IC, MOSFET, Sensor Suhu, Melody IC, Photo Transistor, dan lain sebagainya:

Identifikasi PIN Transistor

Demikian informasi mengenai cara membaca kode transistor yang sudah kami sampaikan secara lengkap dan jelas. Semoga informasi di website ini  bisa bermanfaat terutama bagi anda yang bekerja dalam dunia elektronika.

Leave a Comment