Pengertian Dan Fungsi Grounding Pada Instalasi Listrik


Kabel HSVC



Sedangkan untuk kabel yang digunakan pada tempat outdoor dan jauh dari jangkauan manusia maupun perangkat yang sensitid dapat menggunakan kabel NYA 50mm dengan warna hijau – kuning atau dapat juga menggunakan kabel BCC tanpa selubung.

Dalam instalasi kabel tetap harus dipasangi dengan pipa maupun conduite dengan rapi agar dapat meminimalisir induksi dan tentunya mengamankan dari pencuri kabel yang sering terjadi.

Pemasangan Kabel Grounding

Warna Kabel

Untuk warna kabel nstalasi memili ciri khas adalah kabelnya berwarna hijau atau kuning strip hijau. Ketentuan kabel yang digunakan ini sudah diatur dalam PUIL 2011 yaitu



  • 3.4 MOD (3.18.3.4) Konduktor pembumian harus diberi warna hijau-kuning sesuai dengan 5210.2
  • 2 MOD Penggunaan warna loreng hijau-kuning

Lalu untuk kabel yang berwna loreng hijau kuning biasnaya dapat digunakan untuk menandai konduktor pembumian, konduktor proteksi, dan konduktor yang menghubungkan ikatan ekuipotensal ke bumi. Kabel ini dapat dihubungkan dengan cara menanamkan popa logam kedalam tanan lalu nantinya akan dipasang setiap terminal stop kontak. Berikut adalah contoh warna kabel yang sering digynakan untuk grounding

Ukuran Kabel

Penggunaan ukuran kabel yang dapat digunakan untuk sistem grounding juga diatur pada peraturan PUIl 2011 yaitu sebagai berikut:

542.3.1 Konduktor pembumian harus memenuhi 543.1 dan jika ditanam dalam tanah, luas penampangnya harus sesuai dengan Tabel 54.2.

Baca juga: Pengertian, Jenis Dan Rumus Daya Listrik

Standar Grounding

Dalam sistem grounding dapat dinyatakan baik apabila memiliki nilai resistansi atau tahanan yang kecil. Jadi semakin kecil nilai resistansi yang ada pada grounding tersebut maka grounding dapat dinyatakan baik. Dapat juga dibilang agar arus gangguan listrik atau petir dapat dengan cepat menuju ke bumi atau tanah tanpa adanya hambatan yan besar dan arus listrik secara alami akan mencari jalur dengan hambatan termudah.



Dalam melakukan grounding yang dipasang dapat menghantarkan listrik ke bumi idelanya adalah kabel penghantar harus benar – benar terhubung tanpa resistansi ke tanah, akan tetapi ditemui pada prakteknya sangat sulin untuk mendapatkan grounding yang 100% dapat terhubung ke bumi.

Oleh karena hal tersebut maka dibuatlah standar resistansi atau hambatan maksimum dari kabel grounding menuju bumi dengan nilai sebesar 5 Ohm yang mengacu pada standar PUIL 2000. Standar tersebut masih berlaku hingga sekarang.

Nilai resistansi atau hambatan 0 – 5 Ohm merupakan nilai yang diperbolehkan apabila nilai lebih dari itu maka tidak akan mendapatkan pengesahan dari PLN selaku otoritas kelistrikan di Indonesia. Namun nilai ini tidak mutlak karena masih bergantung pada lokasi dan juga jenis tanah yang digunakan untuk grounding. Berikut adalah standar PUIL yang sesuai dengan ketentuan resistansi grounding yaitu:

Dalam segi teknik apabila hambatan pada sistem grounding memiliki nilai yang tinggi akan sangat merugikan karena listrik statis tidak akan langsung tersalurkan ke bumi sehingga terjadi kebocoran arus yang dapat merusak komponen elektronika khususnya yang memiliki kepekaan terhadap listrik statis. Berikut terdapat beberapa cara apabila instalasi grounding yang telah terpasang memiliki nilai resistansi yang belum sesuai yaitu:



1) Membuat sistem paralel dengan jalur grounding baru

2) Menambah kedalaman penghantar grounding

3) Memperlebar luas penampang penghantar grounding.

Pemasangan grounding pada rumah dan pada penangkal petir haruslah dipisahkan walaupun keduanya memili sifat yang sama yaitu untuk melindungi peralatan listrik. Untuk instalasi rumah biasanya terminal grounding akan dipasang pada kWh meter dan untuk instalasi grorunding dari penangkal petir akan dihubungkan langsung dengan unit penangkal petir yang berupa tiang pada tempat yang tinggi. Terminal pentanahnnya tetap sama kebumi tetei harus dipisah minimal dengan jarak 10 meter.

Jenis – Jenis Sistem Grounding

Pada sistem grounding ini terdapat tiga jenis sistem grounding, berikut adalah penjelasan dari ketiga sistem grounding tersebut:

Single grounding

jenis ini juga dapat disebut dengan pembumian single dmana salah satu dari sistem grounding pada penangkal petir yang dapat langsung ditancapkan secara tegal lurus suatu pasak atau batang logam ke dalam tanah.

Selain menggunakan logam dapa juga ditemui menggunakan pipa galvanis yang dihubungkan terlebihdahulu dengan kabel penyalur menggunakan bak kontrol. Selain itu juga dapat digunakan batang tembaga atau dapat disebut juga dengan grounding rod. Hal ini dikarenakan tembaga merupakan bahan konduktor yang dapat dialiri oleh arus listrik setelah bahan emas.

Paralel grounding

Jenis sistem ini merupakan jenis yang dianggap baik digunakan apabila telah melakukan sistem grounding single tetapi tidak berjalan dengan baik seperti yang diharapkan. Jenis ini hampir sama dengan jenis single ground, akan tetapi terdapat perbedaan yaitu pada jenis ini masih harus ditambahkan logam yang digunakan untuk melepas arus kedalam tanah.

Jarak antara mateial batang – batang logam tersebut adalah paling kurang 2 meter. Pada kedua batang logam tersebut dihubungkan dengan menggunakan kabel BC atau BCC. Penanaman pada batang logam tambahan dapat secara menata pada kedalaman tertentu. Selain itu dapat juga ditanam sekitar pada bagunan yang berbentuk cakar ayam atau cincin. Kedua teknik penanaman batang logam dapat dilakukan secara bersamaan dengan acuan resistansi sebaran dibawah 3 Ohm, setelah dilakukan pengukuran gorunding tester.

Maksimum Grounding

Untuk jenis ini memiliki sistem yang berbeda dari yang sebelum – sebelumnya, dimana sistem ini dapat memanfaatkan lembaran tembaga taua dapat disebut juga dengan copper earthing plate yang telah diikan dengan menggunakan kabel BC sebagai bahan grounding untuk penangkal petir.



Leave a Comment